Rabu, 29 Desember 2010

UJIAN AKHIR SEMESTER

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Mata Kuliah : Metodologi Pem Bahasa Arab Hari : 3 Januari 2010

Dosen : Suriansyah Noer M.Pd.I Bentuk Ujian : Tertutup

  1. Apa yang kamu ketahui dari Metode langsung (direct method ) ?
  2. Jelaskan secara rinci apakah itu Basic method ?
  3. Apakah metode gambar dapat meningkatkan pemahaman anak dengan efektif dalam pembelajaran kosa kata asing, khususnya dalam hal mengingat kembali kosa Bahasa Arab ?
  4. Seberapa penting proses pembelajaran kontekstual Bahasa Arab ?
  5. Sebutkan 7 aspek persiapan mengajar Bahasa Arab ?

UJIAN AKHIR SEMESTER

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Mata Kuliah : Evaluasi Pem Bahasa Arab Hari : 3 Januari 2010

Dosen : Suriansyah Noer M.Pd.I Bentuk Ujian : Tertutup

1. Bedakan Tes, Pengukuran, Penilaian !

2. Apa yang kamu ketahui tentang Ranah Kognitif Bloom ? serta berikan contoh !

3. Ranah Psikomotor Harrow seberapa penting untuk memberikan penilaian ? jelaskan dengan rinci

4. apa tujuan penilaian assesment ?

5. tuliskan kalimat ini dikomputer ?

سأل تلميذ معلمه : هل العيد غداً يا أستاذ ؟

فأجاب المعلم : لا......ولكن لم تسأل ؟

فقال التميذ : اذن لم تلبس ثياباً جديداً

Selasa, 09 November 2010

Idul Adha dan Ibadah Kurban

dakwatuna.com – Kata Idul Adha artinya kembali kepada semangat berkurban. Berbeda dengan Idul Fitri yang artinya kembali kepada fitrah. Bila Idul Fitri berkaitan dengan ibadah Ramadhan, di mana setiap hamba Allah selama Ramadhan benar-benar disucikan sehingga mencapai titik fitrah yang suci, tetapi dalam Idul Adha tidak demikian. Idul Adha lebih berupa kesadaran sejarah akan kehambaan yang dicapai nabi Ibrahim dan nabi Ismail alaihimus salam. Karenanya di hari tersebut ibadah yang paling utama adalah menyembelih kurban sebagai bantuan terhadap orang-orang miskin.

Dalam surah Ash Shaffat 100-111, Allah swt. menggambarkan kejujuran nabi Ibrahim dalam melaksanakan ibadah kurban. Indikatornya dua hal:

Pertama, al istijabah al fauriyah yakni kesigapannya dalam melaksanakan perintah Allah sampai pun harus menyembelih putra kesayangannya.

Ini nampak ketika nabi Ibrahim langsung menemui putranya Ismail begitu mendapatkan perintah untuk menyembelihnya. Di saat yang sama ia langsung menawarkan perintah tersebut kepadanya. Allah berfirman:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”

Dan ternyata al istijabah al fauriyah ini nampak juga pada diri Ismail ketika menjawab:

“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Kedua, shidqul istislam yakni kejujuran dalam melaksanakan perintah.

Allah berfirman: “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).”

Inilah pemandangan yang sangat menegangkan. Bayangkan seorang ayah dengan jujur sedang siap-siap melakukan penyembelihan. Tanpa sedikitpun ragu. Kata aslamaa yang artinya keduanya berserah diri menunjukkan makna bahwa penyerahan diri tersebut tidak hanya terjadi sepihak, melainkan kedua belah pihak baik dari Ibrahim maupun Ismail. Di sanalah hakikat kehambaan benar-benar nampak. Bahwa sang hamba tidak ada pilihan kecuali patuh secara tulus kepada Tuhannya. Suatu teladan kehambaan yang harus ditiru setiap orang beriman yang berjuang menuju derajat kehambaan. Karenanya pada ayat 100 seteleh itu, Allah menegaskan bahwa keduanya benar-benar hamba-Nya, Allah berfirman: “Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”

Dari sini nampak bahwa untuk mencapai derajat kehambaan sejati, tidak ada lain kecuali dengan membuktikan al istijabah al fauriyyah dan shidqul istislam. Nabi Ibrahim dan nabi Ismail telah membuktikan kedua hal tersebut. Allah swt. yang Maha Mengetahui telah merekamnya. Bila Allah yang mendeklarasikannya maka itu persaksian yang paling akurat. Tidak perlu diperbincangkan lagi. Bahkan Allah swt. mengabadikannya dengan menjadikan hari raya Idul Adha. Supaya semua hamba Allah setiap tahun selalu bercermin kepada nabi Ibrahim dan nabi Ismail.

Dengan demikian, esensi Idul Adha bukan semata ritual penyembelihan kurban, melainkan lebih dari itu, membangun semangat kehambaan nabi Ibrahim dan nabi Islamil dalam kehidupan sehari-hari.

Yang perlu dikritisi dalam hal ini, adalah bahwa banyak orang Islam masih mengambil sisi ritualnya saja, sementara esensi kehambaanya dilupakan. Sehingga setiap tahun umat Islam merayakan Idul Adha, tetapi prilaku kesehariannya menginjak-injak ajaran Allah swt. Apa-apa yang Allah haramkan dengan mudah dilanggar. Dan apa-apa yang Allah perintahkan diabaikan. Bukankah Allah berfirmanudkhuluu fissilmi kaafaah? Tapi di manakah makna kaffah itu dalam dataran kehidupan umat Islam? Karena itu, setiap kita memasuki hari raya Idul Adha, yang pertama kali harus kita gelar adalah semangat kehambaan yang kaffah kepada Allah. Bukan kehambaan sepenggal-sepenggal, atau kehambaan musiman.

Berapa banyak orang Islam yang rajin mentaati Allah di bulan Ramadhan saja, sementara di luar Ramadhan tidak demikian.

Berapa banyak orang Islam yang rajin ke masjid selama di Makkah saja, sementara setelah kembali ke negerinya, mereka kembali berani berbuat dosa tanpa merasa takut sedikitpun. Wallahu a’lam bishshawab.

Jumat, 05 November 2010

UTS Evaluasi Pembelajaran Bhs Arab

Mata Kuliah : Evaluasi Pemb.Bhs Arab Semester : VII

Dosen : Suriansyah Noer M.Pd.I Bentuk Ujian : Tertutup

1. Apakah Remember itu menurut taksonomi hasil belajar ?

2. Bedakan antara recalling dan indentifikasi ? serta berikan contohnya !

3. Bagaimana pendapatmu tentang hasil belajar kognitif berkenaan dengan menerapkan !

4.Berikan contoh mendekontruksikan !

5. Apakah menganalisis itu jelaskan ! berikan contoh!

UTS Metodologi Pembelajaran bhs Arab

Mata Kuliah : Metodologi Pemb.Bhs Arab Semester : VII

Dosen : Suriansyah Noer M.Pd.I Bentuk Ujian : Tertutup

1. Sebutkan Ciri-ciri Metode Langsung (Direct Method) dan jelaskan !

2. Apa urutan – urutan pelajaran Metode Alami ( Natural Method) ?

3. Apakah Metode Membaca itu? Apakah kelebihannya !

4. Apakah Metode pembelajaran Bahasa Arab yang kamu sukai ? dan berikan gambar kegiatan pembelajarannya!

5. Bagaimana pendapatmu tentang metode Campuran ? jelaskan !

Kamis, 26 Agustus 2010

TIGA PILAR POKOK PENYAMPAIAN PIDATO HEBAT

Dari banyak buku yang mengupas masalah terkait pidato saya menemukan banyak hal yang mendukung keberhasilan dalam penyampaian sebuahpidato. Dari banyak hal itu, mulai dari menyangkut hal-hal umum sampai hal-hal teknis dalam ber-pidato saya melihat terdapat tiga hal pokok sebagai penentu suksesnya pidato.


Tiga Pilar Pokok Penyampaian pidato tersebut meliputi 3 V, yaitu : vokal, verbal , visual. Semuanya terkait tentang
bagaimana manusia bisa menyerap informasi secara maksimal, bagaimana orang bisa tersentuh emosinya, dsb.

Vokal
Dari segi vokal yaitu menyangkut intonasi suara. Tinggi dan rendahnya, berirama atau monoton/datar, bahkan diam. Kapan harus diam dan kapan harus mulai bicara lagi, ini pun penting. Tidak mungkin agar orang ikut terbawa suasana sedih anda menyampaikan dengan nada tinggi seperti orasi. Tidak mungkin untuk membangkitkan semangat anda menyampaikan dengan nada pelan dan lembut. Hal lainnya adalah segi vokal bisa menentukan bosan atau tidaknya audien.

Verbal
Segi verbal menyangkut artikulasi suara. Kejelasan pengucapan hurup, pemilihan kata-kata yang tepat dan sesuai untuk pendengar, bahasa yang digunakan, dll.

Visual
Segi visual mencakup ekspresi tubuh, gerakan badan dan tangan, alat bantu atau media yang digunakan, dll.

Beruntung rasanya saya dulu pernah ikut teater di pondok pesantrena Daarut Tauhiid pimpinan Aa gym. Saya mendapat pelajaran tentang artikulasi suara. Meskipun tidak betul-betul menguasai setidaknya saya jadi tahu.
Mengetahai
syarat pidato yang baik akan memudahkan anda untuk menyusun sebuah pidato yang berbobot baik dalam uraian maupun cara penyampaiannya. Apa saja syarat pidato yang baik itu?

Syarat pidato yang baik itu meliputi :
• Adanya pokok masalah (isi) yang akan diuraikan yang harus dikuasai.
• Memiliki kecakapan untuk menyampaikan isi tersebut
• Uraian mengandung pengetahuan
• Ada tujuan yang ingin dicapai
• Antara si pembaca, topik, dan pendengar terjalin hubungan yang harmonis.

Setelah memahami pentingnya penguasaan bahasa maka ada yang harus anda miliki pula yaitu pengetahuan lainnya berupa pengetahuan yang menjadi isi pidato. Apa saja yang mencakup pengetahuan isi pidato.

Banyak hal yang bisa anda ketahui atau kuasai, misalnya pengetahuan tentang masalah agama, psikologi, sejarah, biografi, dll.

Tapi..harus dicamkan bahwa walau pun demikian janganlah anda ingin dianggap serba tahu dan serba bisa dalam segala hal. Ketika diminta membicarakan sesuatu yang memang tidak dikuasai, katakan saja terus terang, “tidak sangup”. Tidak perlu khawatir tidak dapat gelar ahli pidato.

Disamping itu perlu juga pengetahuan pendukung yaitu pengetahuan yang turut dipergunakan dalam menyusun pidato. Sasaran pidato adalah manusia, maka pidatonya akan sukses jika ditopang dengan pengetahuan-pengetahuan seperti : Psikologi (ilmu jiwa), filsafat, agama, antropologi, sejarah dan kebudayaan, pengetahuan hukum, undang-undang dan lain-lain.

Dari : http://kabarmu.blogspot.com

RENUNGAN RAMADHAN

Jika sebagian besar waktu selama setahun telah digunakan untuk mengadakan kajian-kajian tentang Al-Qur’an, maka jadikan Ramadhan ini kita gunakan untuk melaksanakan hasil dari kajian-kajian tersebut. Mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali di bulan Ramadhan. Ini merupakan cara mengkhatamkan yang indah. Jibril biasa membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Nabi saw. Sekali dalam setahun.
Rasul saw. mempunyai sifat dermawan, dan sifat dermawan beliau ini paling menonjol terlihat pada bulan Ramadhan ketika Jibril membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Sesungguhnya Rasul saw lebih dermawan dan pemurah dibandingkan dengan angin yang bertiup.
(Hadist riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Kebiasaan membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an ini terus berlangsung sampai pada tahun ketika Rasulullah saw. diberi pilihan untuk menghadap kepada Ar-afiq Al-A’la (Allah swt), maka ketika itu Jibril membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an beliau dua kali. Ini merupakan isyarat bagi Nabi saw. bahwa tahun ini merupakan tahun terakhir beliau hidup di dunia.

Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Rasulullah saw. pernah bersabda mengenainya,
Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalangi-nya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa ‘at untuknya.’ Sedangkan Al-Qur’an akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dan tidur di malam hari, maka perkenankan aku memberikan syafaat untuknya. ‘Maka Allah memperkenankan keduanya
memberikan syafaat.
(HR. Imam Ahmad dan Ath Thabrani)

Berusahalah agar hati kita menyatu dengan Allah swt. Pada malam-malam bulan mulia ini. Sesungguhnya puasa adalah ibadah yang dikhususkan oleh Allah swt. bagi diri-Nya sendiri.

Hadits Qudsi:
(HR. Ibnu Huzaimah,dlm shahihnya, dari Abu Hurairah sanad sahih)
“Tiap-tiap amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. la untuk-Ku dan Aku akan memberikan balasannya.Dia tidak makandemi mematuhi perintah Ku, dia tidak minum demi mematuhi perintah Ku dan dia tidak mengadakan hubungan seksual dengan isterinya demi mematuhi perintah KU”

Puasa di dalamnya tidak terkandung apa pun selain larangan. Ia harus melepaskan diri dari bermacam keinginan terhadap apa yang menjadi bagian dirinya. Bila kita terhalang untuk berjumpa satu sama lain, maka kita akan banyak berbahagia kerana bermunajat kepada Allah swt. Dan berdiri di hadapan-Nya, khusus-nya ketika melaksanakan shalat tarawih.

Hendaklah senantiasa memastikan bahwa kita semua berpuasa kerana melaksanakan perintah Allah swt. Maka berusahalah sungguh-sungguh untuk beserta dengan Rob kita dengan hati kita pada bulan mulia ini. Ramadhan juga adalah bulan keutamaan. Ia mempunyai kedudukan yang agung di sisi Allah swt.

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeza (antara yang haq dan yang batil).”
(Al-Baqarah:185)

Allah Yang Maha Benar meletakkan ayat ini di tempat ini untuk menunjukkan bahwa Allah paling dekat kepada hamba-Nya adalah pada bulan mulia ini. Allah swt. telah mengistimewakan bulan Ramadhan. Mengenai hal ini terdapat beberapa ayat dan hadits.

Rasullulah saw. bersabda,
“Jika bulan Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaitan-syaitan dibelenggu, kemudian datang seorang penyeru dari sisi Allah Yang Mahabenar swt “Wahai pencari kejahatan, berhentilah! Dan wahai pencari kebaikan, kemarilah!’”

sehingga Allah mengampuni mereka dan menjadikan mereka hamba-hamba yang dicintai dan didekatkan kepada Allah.

Keutamaan dan keistimewaan paling besar bulan ini adalah bahwa Allah swt. telah memilihnya menjadi waktu turunnya Al-Qur’an. Inilah keistimewaan yang dimiliki oleh bulan Ramadhan. Kerana itu, Allah swt. mengistimewakan dengan menyebutkannya dalam kitab-Nya.

”(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an.”
(Al-Baqarah:185)

Hakikat spiritual atas hakikat material dalam diri manusia. Ini bererti, bahwa jiwa, ruh, dan pemikiran manusia pada bulan Ramadhan akan menghindari tuntutan-tuntutan jasmani. Dalam keadaan seperti ini, ruh manusia berada di puncak kejernihannya, kerana ia tidak disibukkan oleh syahwat dan hawa nafsu. Ketika itu ia dalam keadaan paling siap untuk memahami dan menerima ilmu dari Allah swt. Kerana itu, bagi Allah, membaca Al-Qur’an merupakan Ibadah paling utama pada bulan Ramadhan yang mulia.

diusun dari: Hadith Tsulasa: Renungan tentang Bulan Ramadhan
oleh Hassan Al-Banna

Minggu, 30 Mei 2010

UJIAN AKHIR SEMESTER
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Mata Kuliah : Peng,Kurikulum semester :IV Hari : 9 - Juni- 2010
Dosen : Suriansyah Noer M.Pd.I Bentuk Ujian : Tertutup

1. Sebutkan prinsip-prinsip kurikulum PAI yang kamu ketahui ?
2. Bagaimana peranan guru dalam pengembangan Kurikulum ?
3. Jelaskan prinsip-prinsip yang dapat dijadikan dasar kriteria penilaian kurikulum !
4. Apa yang kamu ketahui tentang model konsep kurikulum?
5. Apa yang kamu pahami dan mengerti tentang Kurikulum ? jelaskan !

UJIAN AKHIR SEMESTER

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Mata Kuliah : Mat.Pem Bahasa Arab Hari : 7 Juni 2010

Dosen : Suriansyah Noer M.Pd.I Bentuk Ujian : Tertutup

رتب هذه الكلمات لتكون جملة مفيدة

١) الله – المؤمنين – قبل – امر - يتوضؤوا- ان – ان يقيمواالصلاة

٢) المدرّسة - تشرح – بعض –ارادت- ان- الدروس- لنا

٣) يجب – علينا- نصلى – المسنونة – هل – أن – الصلوات-

جماعة – فى

٤) لا يستطيع- أن- الولد – العربية - يتكلم – باللغة – جيداً

٥) ان – ارجع – اليبت - احب – بعد –ان –الى – اصلي –الظهر

٦) تموت – الله – لنفس – الاّ – باذن – ماكا ن – أن

٧) الله – الخلق – وحده – يدبّر – أمور- كلها

٨) الكتاب – أنبياءهم – أهل – جعل – الهة ً

٩) الله – محمد – دعا – عبادة – الناس – وحده – الى

١٠) يحج – بيت الله – المسلمين – الحرام- من – القادرون

اجب الاسئلة الاتيت

١١) ماذا تفهم من الصوم ؟

١٢) لماذا يجب على المؤمنين الصوم ؟

١٣) ما هو الاساس الاسلام ؟

١٤) هل الانبياء اناس مثلنا ؟

١٥) من الذي يخلق ويرزق ؟

١٦) .......................؟ الله الذي يحيين ويميتنا

١٧)........................؟ لا, ليس له شريك

١٨)........................؟ لا يجوز لاهل الكتاب أن يعبد وا غير الله

١٩) ما هو التسحر ؟

٢٠) متى يفطر الصائمون ؟

Rabu, 14 April 2010

Mata Kuliah : Peng Kurikulum PAI

UJIAN TENGAH SEMESTER
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
Mata Kuliah : Peng Kurikulum PAI Semester : VI
Dosen : Suriansyah Noer M.Pd.I Bentuk Ujian : Tertutup

1.sebutkan UU RI nomer 20 tahun 2003 tentang sisdiknas pasal 36 ayat 3 berkenaan dengan menyusun kurikulum!.........
2.Bagaimana strategi pengembangan kurikulum PAI di Madrasah ?
3. Sebutkan faktor-faktor yang menjadi landasan dalam pengembangan kurikulum ?
4.Apakah pengembangan kurikulum itu ?
5.apakah ruang lingkup pengembangan kurikulum PAI ?
UJIAN TENGAH SEMESTER
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
Mata Kuliah : Mat. Pemb Bhs Arab Semester : VI
Dosen : Suriansyah Noer M.Pd.I Bentuk Ujian : Tertutup

هذ ا الرجل تاجر وذلك الرجل طبيب اسم التاجر احمد واسم الطبيب سعيد, بيت التاجر امام المسجد. وبيت الطبيب وراء المدرسة.هذه السيارة للطبيب من اليابان وهذه السيارة للتاجر من امريكا
اجب الاسئلة بكلمة مناسبة !
١. من هذا الرجل ومن ذلك الرجل ؟
٢. ما اسم التاجر
٣. ما اسم الطبيب ؟
٤. من اين سيارة الطبيب ؟
٥. من اين سيارة التاجر ؟
سأل تلميذ معلمه : هل العيد غداً يا أستاذ
فأجاب المعلم : لا......ولكن لم تسأل ؟
فقال التميذ : اذن لم تلبس ثياباً جديداً
اجب الاسئلة الاتية
١.ماذا سأل تلميذ معلمه ؟
٢.ماذا اجاب المعلم ؟
٣.ما هو العيد ؟
٤. هل واجب لنا نلبس ثيابا جديدا عند العيد ؟
٥. ما هو امر غريب ؟

Selasa, 23 Maret 2010

kurikulum pendidikan Islam

KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM


PENDAHULUAN

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على اشرف الانبياء والمرسلين سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين

Pendidikan merupakan satu aspek yang penting di dalam kehidupan setiap individu. Pendidikan bermula sejak seorang itu dilahirkan sehinggalah ia menemui ajalnya. Pendidikan bagi manusia meliputi aspek jasmani,rohani, akal dan sosial. “Manusia mendidik anaknya supaya badannya sihat dan kuat, akalnya waras dan cerdas, rohaninya luhur dan berbudi pekerti tinggi, tahu bermasyarakat dan menyesuaikan diri dalam kelompoknya” (Musa bin Daia,1986).

Di antara pendidikan yang paling penting bagi setiap manusia ialah pendidikan Islam.”Pendidikan Islam adalah pendidikan yang melatih kepekaan (sensibility) para peserta didik sedemikian rupa sehingga sikap hidup dan peri-laku, juga keputusan dan pendekatannya kepada semua jenis pengetahuan dikuasai oleh perasaan mendalam nilai-nilai etik dan spiritual Islam. Mereka dilatih dan mentalnya didisiplinkan, sehingga mereka mencari pengetahuan tidak sekadar untuk memuaskan keingin-tahuan intelektual atau hanya untuk keuntungan dunia material belaka, tetapi juga untuk mengembangkan diri sebagai makhluk rasional dan saleh yang kelak dapat memberikan kesejahteraan fisik, moral dan spiritual bagi keluarga, masyarakat dan umat manusia”(Syed Sajjad Husain & Syed Ali Ashraf , 2000)

Dalam konteks Negara Brunei Darussalam, pihak kerajaan amat mementingkan pendidikan Islam. Pendidikan Islam mula diberikan kepada kanak-kanak sejak mereka berada di peringkat prasekolah hinggalah ke universiti. Untuk menanamkan ajaran-ajaran Islam di kalangan pelajar-pelajar dengan lebih berkesan, maka satu kurikulum yang lengkap,kemas dan tersusun rapi serta berkesinambungan amatlah diperlukan.

Oleh itu di dalam rencana ini penulis akan menerangkan mengenai kurikulum yang berkaitan dengan pendidikan Islam. Kurikulum pendidikan Islam yang dimaksudkan di sini tidak terbatas setakat mempelajari mata pelajaran pengetahuan Ugama Islam sahaja sebagaimana kefahaman kebanyakkan masyarakat hari ini. Tetapi pendidikan Islam itu sebenarnya mempunyai skop jangkauan yang lebih luas meliputi semua cabang ilmu pengetahuan yang dibenarkan oleh agama Islam.

BAB I : KURIKULUM


Pengetahuan terus berkembang dan pendidikan semakin kompleks untuk memenuhi keperluan masyarakat dan negara. Kemajuan yang sentiasa dicapai dalam bidang pendidikan telah menyebabkan berubahnya konsep pendidikan dalam sebuah negara dari semasa ke semasa. Bagi mengimbangi perubahan konsep pendidikan, maka apa yang berlaku di dalam proses pendidikan juga perlu diubah agar pelajar dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.

Dalam ertikata lain berubahlah kurikulum bagi setiap sekolah, maktab, universiti dan pusat pengajian tinggi lainnya. Selaras dengan perkembangan ini, maka definisi kurikulum juga turut berubah.

Berbagai-bagai definisi kurikulum telah dikemukakan oleh para pendidik, tokoh-tokoh ilmuan dan para sarjana dari berbagai bangsa. Ada pengertian yang sangat luas dan sebaliknya terdapat pengertian yang sempit. Perkataan kurikulum berasal dari bahasa Latin yang luas digunakan oleh bangsa Yunani. ’Curriculum’ dalam bahasa Latin bermaksud ‘Luang tempat pembelajaran berlaku’ (Sharifah Alwiah Alsagoff,1986).

Walaupun terdapat berbagai-bagai definisi untuk kurikulum, namun hampir semua makna, atau pengertian kurikulum dari definisi-definisi itu akan kembali ke pengertian asal, iaitu satu rancangan pengajian (Sharifah Alwiah Alsagoff,1986).

Di dalam kamus bahasa Arab kurikulum (Manhaj) sering didefinisikan sebagai jalan yang terang, atau jalan terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupannya. Seterusnya,Prof. Dr. Omar Al-Syaibani (1991) menjelaskan kurikulum (manhaj) dimaksudkan sebagai jalan terang yang dilalui oleh pendidik atau guru dengan orang-orang yang dididik atau dilatihnya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka.

Sementara itu Wiles dan Bondi (1993) memberikan definisi kurikulum sebagai:

“It is the range of experiences,both indirect and directed,concerned in unfolding the abilities of the individual,or it is a series of consciously directed training experiences that the school use for completing and perfecting the individual”

Menurut Zuharani (1983), ”Kurikulum adalah semua pengetahuan, kegiatan-kegiatan atau pengalaman belajar yang diatur dengan kaedah yang sistematik, yang diterima anak untuk mencapai suatu tujuan”.

Sementara itu Kementerian Pelajaran Malaysia (1984) menjelaskan ”Kurikulum bermaksud segala rancangan pendidikan yang dikendalikan oleh sesebuah sekolah ataupun institusi pelajaran untuk mencapai matlamat pendidikan”.

Seterusnya, Pg. Dr. Hj. Abu Bakar(2008) menjelaskan:

”Kurikulum adalah maklumat dan ilmu pengetahuan yang diajar oleh guru atau yang dipelajari oleh pelajar di sekolah atau lain-lain institusi pendidikan, dalam bentuk mata pelajaran yang terdapat dalam buku teks dalam setiap tahap pendidikannya”.

Ini bermakna kurikulum itu ialah segala pengalaman yang diperolehi oleh pelajar di sekolah yang mempunyai pengaruh yang baik terhadap kelakuan anak di bawah bimbingan guru bagi mencapai tujuan dan matlamat pendidikan.

Akhirnya dapatlah diambil kesimpulan bahawa kurikulum bukan hanya meliputi mata pelajaran dan pengalaman yang berlaku dalam kelas, malah ia meliputi semua pengalaman, aktiviti, suasana dan pengaruh yang diberikan kepada pelajar atau yang mereka kerjakan atau yang mereka jumpai di sekolah atau yang dikelolakan oleh sekolah. Ini termasuklah , semua kegiatan, pengalaman budaya, seni, sukan dan sosial yang dikerjakan oleh pelajar di luar jadual waktu dan di luar bilik darjah yang dikelolakan oleh pihak sekolah.

BAB II: PENDIDIKAN ISLAM

2.1 Pendahuluan

Pendidikan Islam mempunyai sejarah yang panjang seiring dengan kedatangan Islam itu sendiri (Dr.Gamal Zakaria,2002). Pendidikan Islam berterusan seumur hidup, secara formal dan tidak formal. Ini bererti pendidikan yang berasaskan nilai-nilai Islamiah tidak hanya menghadkan pengajaran akademik dalam bilik darjah. Bimbingan dan asuhan yang dilakukan oleh para pendidik diusahakan setiap masa secara ikhlas bertujuan menjadikan individu beriman dan bertakwa (Kamarudin Hj.Kachar,1989).

2.2 Definisi Pendidikan Islam

Istilah “Pendidikan Islam” merupakan rangkai kata yang membawa makna yang sangat luas. Dalam ungkapan ini sendiri telah tersirat konsep, falsafah dan matlamatnya. Ini agak berbeza dengan kefahaman umum masyarakat hari ini yang menganggap pendidikan Islam itu ialah Mata Pelajaran Agama Islam atau Pengetahuan Agama Islam di sekolah(Mohd Yusuf Ahmad, 2004).

Untuk memberikan pengertian pendidikan Islam yang sempurna, terlebih dahulu kita menjelaskan makna kata ‘pendidikan’ dan ‘Islam’. Menurut Al-Attas,Hassan Langgulung dan Burlian Somad maksud pendidikan itu ialah perubahan dalaman dan perubahan tingkah laku (Mohd Yusuf Ahmad, 2004). Apabila disebut pendidikan Islam ia menjadi lebih khusus dan bermaksud pendidikan yang berteraskan syariat Islam yang berpandukan Al-Quran dan Al-Hadis, dan perubahan yang dikehendaki pula ialah perubahan rohani, akhlak dan tingkah laku menurut Islam.

Dalam bahasa Inggeris istilah pendidikan disebut education. Manakala dalam bahasa Arab pengertian kata pendidikan, sering digunakan pada beberapa istilah, antaranya “ta’lim” ( التعليم ) , tarbiyah ( التربية ( dan ta’dib ) (التاديب . Namun demikian, ketiga kata tersebut memiliki makna tersendiri dalam menunjuk atau menerangkan pengertian pendidikan (Dr. Samsul Nizar,M.A: 2001).

Kata at-ta’lim merujuk kepada pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampaian pengertian, pengetahuan, dan keterampilan. Kata at-tarbiyah membawa erti mengasuh, mendidik, dan memelihara. Sementara Kata at-ta’dib dapat diertikan sebagai proses mendidik yang memfokuskan kepada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti pelajar. Pendidikan adalah ‘latihan atau ajaran’ (Dr.Teuku Iskandar,1986). Sementara itu menurut al-Quran, Islam ialah penyerahan diri dan kepatuhan sesuai dengan firman Allah swt dalam Surah Ali ‘Imran ayat 83:

افغير دين الله يبغون وله اسلم من فى السموت والارض طوعا وكرها واليه يرجعون

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nyalah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi,baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”

Ini menunjukkan kepada kita bahawa, pendidikan Islam merupakan usaha-usaha pembentukan anak-anak sesuai dengan ajaran Islam, maka dengan itu melalui pendidikan Islam akan dapat menyerapi dan menyedari hal-hal yang sebenar atau hakikat-hakikat baik dalam ajaran dan amalan Islam, atau apa yang terkandung dalam akidahnya, ibadatnya, sistem akhlaknya dan juga ajaran syariatnya yang dilihat dari segi hukum-hukumnya yang zahir. Ahli-ahli fikir Islam berpendapat bahawa dengan menyedari hal-hal ini semua manusia akan mencapai kebahagiaan dalam dunia dan akhirat (Dr. Haron Din & Dr. Sobri Salamon, 1988)

Lebih jauh lagi, pendidikan Islam ialah satu ‘kesatuan’ yang terdiri daripada dua aspek yang bersepadu. Yang pertama ialah bahawa sebahagian daripada ajaran Islam dan undang-undang serta moral hendaklah diajar dengan begitu rupa untuk membolehkan pelajar memahami, setakat yang memadai, asas-asas Islam. Aspek yang kedua ialah untuk melatih pemikiran pelajar dengan cara yang saintifik dan rasional supaya dia dapat menyelaraskan perilakunya dengan moral, undang-undang dan keimanannya terhadap Islam (Muhammad Hamid Al-Afendi & Nabi Ahmed Baloch, 1992) .

Menurut Mohd Kamal Hasan, pendidikan Islam menyatukan semua ilmu pengetahuan di bawah authority dan pengendalian Al-Quran dan Sunnah yang merupakan teras dalam sistem pendidikan dan kebudayaan Islam seluruhnya. Akidah Islam menjadi pusat bagi semua ilmu serta sifatnya integrated. Menurut beliau pendidikan Islam itu bolah dibahagi dua, iaitu formal dan informal (Mohd Yusuf Ahmad,2004).

Akhirnya, dapatlah dibuat kesimpulan bahawa tiada makna yang tepat bagi pendidikan Islam namun dapat difahami oleh semua orang bahawa pendidikan Islam adalah satu usaha untuk mengembangkan fitrah manusia sesuai dengan ajaran agama Islam berlandaskan al-Quran dan al-Sunnah yang akhirnya akan mewujudkan satu masyarakat yang bertamadun tinggi, penuh rahmat dan kebahagiaan serta mendapat keredaan Allah.

2.3 Dasar Pendidikan Islam

Dasar adalah tempat bermula sesuatu aktiviti manusia. Maka ketika menetapkan dasar sesuatu perkara, khasnya dasar pendidikan Islam, setiap individu akan menjadikan pandangan hidup dan hukum-hukum dasar agamanya sebagai panduan. Pendidikan Islam adalah satu aktiviti manusia yang mempunyai dasar-dasar tertentu. Adapun dasar pendidikan Islam ialah al-Quran,Hadith (As-Sunnah) dan Ijtihad para ulama.

2.4 Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan adalah dasar yang hendak dicapai dalam semua kegiatan manusia.Tujuan berfungsi untuk mengarahkan, mengendalikan dan mengembangkan sesuatu kegiatan. Oleh sebab itu setiap tujuan hendaklah dirumuskan dengan tegas dan jelas. Dengan adanya tujuan semua aktiviti dan pergerakan manusia akan menjadi terarah dan bermakna.

Kefahaman kita mengenai tujuan hidup di dunia adalah penting untuk menetapkan tujuan pendidikan Islam kerana setiap didikan yang diterima oleh manusia adalah untuk mencapai tujuan hidup tersebut.

Menurut Islam, manusia diturunkan ke bumi oleh Allah swt adalah sebagai seorang khalifah yang mempunyai tugas untuk:

i.Memakmurkan bumi demi kebahagiaan hidup seperti firmannya dalam Surah Faathir ayat 39:

هو ا لذ ي جعلكم خلا لف في الارض

Ertinya: “Dia-lah (Allah) yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi”

ii.Berbakti kepada Allah swt seperti firmannya dalam Surah Adz-Dzaariyaat ayat 56:

و ما خلقت الجن والانس الاليعبدون

Ertinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”

Daripada keterangan di atas dapatlah dirumuskan bahawa, “tujuan sejati pendidikan Islam adalah menghasilkan orang-orang yang beriman dan juga berpengetahuan, yang satu sama lain saling menompang. Islam tidak memandang bahawa pencarian pengetahuan adalah demi pengetahuan sendiri tanpa merujuk pada cita-cita spiritual yang harus dicapai manusia, tetapi untuk mewujudkan sebanyak mungkin kemaslahatan bagi umat manusia. Pengetahuan yang diceraikan dari agama bukan hanya membuat pengetahuan menjadi bias, bahkan akan menjadikannya sebagai kejahilan jenis modern. Islam menganggap orang yang tidak beriman kepada Allah swt sebagai orang yang tidak berpengetahuan. Orang semacam ini, betapapun luas pengetahuannya, hanya akan mempunyai pandangan yang tidak lengkap mengenai jagat raya” (Syed Sajjad Husain & Syed Ali Ashraf,2000).

Sementara itu menurut Sayid Sabiq (1981) ,tujuan pendidikan Islam ialah agar jiwa seseorang dapat terdidik secara sempurna. Agar seseorang dapat menunaikan kewajipan-kewajipannya kerana Allah. Dapat berusaha untuk kepentingan keluargannya, kepentingan masyarakatnya, serta dapat berkata jujur, dan berpihak kepada yang benar serta mahu menyebarkan benih-benih kebaikan pada manusia. Apabila seseorang mempunyai sifat-sifat seperti itu, bererti ia telah mencapai tingkat orang-orang salih sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah, iaitu orang-orang yang berpegang teguh pada agamanya.

Pendidikan Islam juga bertujuan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan dari peribadi manusia secara menyeluruh melalui latihan-latihan kejiwaan, akal fikiran, kecerdasan, perasaan dan pancaindera. Oleh kerana itu pendidikan Islam harus mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia, baik spiritual, intelektual, imaginasi (fantasi), jasmani, keilmiahannya, bahasanya, baik secara individual maupun kelompok, dan mendorong aspek-aspek tersebut kearah kebaikan dan pencapaian kesempurnaan hidup ( Abdul Raof Dalip, 1990).

Sementara itu, menurut hasil Kongres Pendidikan Islam Sedunia Tahun 1980 di Islamabad, menyebutkan bahawa pendidikan Islam haruslah bertujuan mencapai pertumbuhan keperibadian manusia yang menyeluruh, secara seimbang melalui latihan jiwa, intelek, diri manusia yang rasional, perasaan dan indera. Kerana itu, pendidikan harus mencapai pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya; spiritual, intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah dan bahasa secara individual maupun kolektif. Mendorong semua aspek kearah kebaikan dan mencapai kesempurnaan. Tujuan akhirnya adalah dengan perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah, baik secara peribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia (Dr. Samsul Nizar,M.A, 2001)

Akhirnya dapatlah diambil kesimpulan bahawa tujuan pendidikan Islam itu tidak statik. Ia sering mengalami perubahan mengikut kepentingan dan perkembangan masyarakat di mana pendidikan itu dilaksanakan. Walaupun begitu sebagai umat Islam kita mestilah berpegang teguh dan terus merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah dalam melaksanakan tujuan pendidikan Islam.

2.5 Matlamat Pendidikan Islam

Pendidikan Islam mempunyai beberapa matlamat tertentu. Di antara matlamat-matlamatnya adalah jelas untuk melahirkan insan yang budiman, beriman, bertakwa dan salih. Pendidikan Islam nyata sekali menuju ke arah perkembangan tingkahlaku yang sihat. Ekoran daripada matlamat murni ini berkembanglah manusia yang menyedari hakikat lahirnya sebagai hamba Allah swt yang menurut perintahnya, yang beramanah dan bertanggungjawab (Kamarudin Hj. Kacar,1989).

Menurut Dr. Abdur Rosyad Syuhudi(1990) di antara matlamat pendidikan Islam itu ialah untuk mengenal diri manusia itu sendiri, untuk mengenal tugas dan tanggungjawab manusia, untuk menyusun struktur masyarakat, untuk membentuk akhlak yang mulia di kalangan manusia, untuk menjaga kepentingan agama dan kehidupan serta untuk memberikan kepentingan jasmani dan rohani.

Ustaz Abdul Raof Dalip (1990) ada menyatakan beberapa matlamat pendidikan Islam. Antaranya ialah untuk mentauhidkan diri kepada Allah,untuk pembentukan akhlak yang mulia, menyedarkan manusia mengenai keperluan ilmu pengetahuan, menyedarkan manusia mengenai peranannya sebagai Khalifah, untuk pembentukan insan soleh, untuk pembentukan akhlak atau syahsiah Islamiah di dalam diri manusia, untuk mempersiapkan manusia bagi kehidupan di dunia dan di akhirat, untuk memberi perhatian serta menjaga kemanfaatan individu dan masyarakat, dan akhir sekali untuk penyediaan tenaga mahir dan profesion dalam berbagai bidang kehidupan.

Ghazali Darussalam (2004) di dalam buku ‘Pedagogi Pendidikan Islam’ ada menyebutkan beberapa pendapat sarjana dan ilmuan mengenai matlamat pendidikan Islam. Antaranya, Prof. Dr. Mohd. Athiyah Al-Abrasyi menjelaskan matlamat pendidikan Islam adalah;

“Pendidikan hendaklah menyediakan seseorang itu sehingga ia dapat hidup dengan sempurna, bahagia, cintakan negara, kuat jasmaninya, sempurna akhlaknya, teratur pendidikannya, halus dan murni perasaannya, cekap dalam kerjanya, berkerjasama dengan orang lain, baik bahasanya, tulisannya dan lisannya serta tangannya dapat membuat sesuatu pekerjaan itu dengan baik.”

Daripada keterangan di atas maka jelaslah bahawa tujuan dan matlamat pendidikan Islam itu tidak jauh berbeza malah hampir sama. Sebagai rumusan kita lihat petikan berikut;

“Al-Qabisi, berpendapat bahawa tujuan pendidikan adalah untuk mengetahui ajaran agama baik secara ilmiah maupun secara amaliah. Ini kerana dia termasuk ulama ahli fiqih dan tokoh dari ulama ahli sunnah wal jama’ah. Sedangkan Ibnu Maskawih berpendapat bahawa tujuan pendidikan ialah tercapainya kebajikan,kebenaran dan keindahan. Ikhwan As-Safa, cenderung berpendapat bahawa tujuan pendidikan itu adalah mengembangkan faham filsafat dan akidah politik yang mereka anut. Al-Ghazali, berpendapat bahawa tujuan pendidikan itu adalah melatih para pelajar untuk mencapai makrifat kepada Allah melalui jalan tasawuf iaitu dengan mujahadah dan riyadhah.

BAB III: KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM

3.1 Definisi Kurikulum Pendidikan Islam

Kurikulum pendidikan Islam adalah bahan-bahan pendidikan Islam berupa kegiatan, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan sistematis diberikan kepada anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam. Atau dengan kata lain kurikulum pendidikan Islam adalah semua aktiviti, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan secara sistematis diberikan oleh pendidik kepada anak didik dalam rangka tujuan pendidikan Islam (H.syamsul Bahri Tanrere, 1993).

Berdasarkan keterangan di atas, maka kurikulum pendidikan Islam itu merupakan satu komponen pendidikan agama berupa alat untuk mencapai tujuan. Ini bermakna untuk mencapai tujuan pendidikan agama (pendidikan Islam) diperlukan adanya kurikulum yang sesuai dengan tujuan pendidikan Islam dan bersesuaian pula dengan tingkat usia, tingkat perkembangan kejiwaan anak dan kemampuan pelajar.

3.2 Materi Pokok Dalam Kurikulum Pendidikan Islam

Kurikulum pendidikan Islam meliputi tiga perkara iaitu masalah keimanan (aqidah), masalah keislaman (syariah) dan masalah ihsan (akhlak). Bahagian aqidah menyentuh hal-hal yang bersifat iktikad (kepercayaan). Termasuklah mengenai iman setiap manusia dengan Allah,Malaikat,Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari Qiamat dan Qada dan Qadar Allah swt.

Bahagian syariah meliputi segala hal yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia dalam kehidupan sehari-hari yang berpandukan kepada peraturan hukum Allah dalam mengatur hubungan manusia dengan Allah dan antara sesama manusia.

Bahagian akhlak merupakan suatu amalan yang bersifat melengkapkan kedua perkara di atas dan mengajar serta mendidik manusia mengenai cara pergaulan dalam kehidupan bermasyarakat.

Ketiga-tiga ajaran pokok tersebut di atas akhirnya dibentuk menjadi Rukun Iman,Rukun Islam dan Akhlak. Dari ketiga bentuk ini pula lahirlah beberapa hukum agama, berupa ilmu tauhid, ilmu fiqeh dan ilmu akhlak. Selanjutnya ketiga kelompok ilmu agama ini kemudian dilengkapi dengan pembahasan dasar hukum Islam, iaitu al-Quran dan al-Hadis serta ditambah lagi dengan sejarah Islam.

Sementara itu menurut Dr. Hj. Maimun Aqsa, perkara yang perlu didahulukan dalam kurikulum pendidikan Islam ialah al-Quran, Hadis dan juga Bahasa Arab. Kedua ialah bidang ilmu yang meliputi kajian tentang manusia sebagai individu dan juga sebagai anggota masyarakat. Menurut istilah moden hari ini, bidang ini dikenali sebagai kemanusiaan (al-ulum al-insaniyyah). Bidang-bidangnya termasuklah psikologi, sosiologi, sejarah, ekonomi dan lain-lain. Ketiga bidang ilmu mengenai alam tabie atau sains natural ( al-ulum al-Kauniyyah), yang meliputi bidang-bidang seperti astronomi, biologi dan lain-lain.

Ruang lingkup materi pendidikan Islam sebenarnya ada terkandung di dalam al-Quran seperti yang pernah dicontohkan oleh Luqman ketika mendidik anaknya. Bagi Negara Brunei Darussalam Keluasan ruang lingkup pendidikan Islam tertakluk kepada pihak Kementerian Pendidikan, Kementerian Hal Ehwal Ugama, Jabatan Perkembangan Kurikulum, tingkat kelas, tujuan dan tingkat kemampuan pelajar. Bagi sekolah Arab dan agama khas tentunya mempunyai pembahasan yang lebih luas dan lebih terperinci berbanding sekolah umum. Begitu juga terdapat perbezaan yang jelas di antara peringkat rendah, menengah dan peringkat tinggi dan universiti.

Sedangkan mengenai sistem pengajaran dan teknik penyampaian adalah terserah kepada kebijakan guru melalui pengalamannya dengan cara memperhatikan bahan yang tersedia,waktu serta jadual yang sudah ditetapkan oleh pihak tertentu.

“Bagi pengajian tinggi, Pengajaran Agama Islam hendaklah dijadikan suatu mata pelajaran khas yang juga merupakan suatu pengajian yang mendalam mengenai sesuatu hukum dan difahamkan maksud-maksud pengajaran Agama Islam itu supaya mereka dapat mengamalkan pengajaran itu menjadi sebagai suatu cara hidup dan menjadi panduan semasa mempelajari ilmu-ilmu yang lain terutama sekali ilmu Sains” (Hj.Mohd. Jamil Al-SufrI, 1982)

Bagi merumuskan maksud prinsip-prinsip kurikulum pendidikan Islam kita lihat pandangan Prof. Mohd. Athiyah (Tajul Ariffin Noordin, 1990). Beliau menjelaskan;

“Pendidikan moden sekarang ini memerlukan pendidikan Islam. Iaitu pendidikan idealis yang bersifat kerohanian, moral dan keagamaan. Ini membuatkan kita belajar untuk ilmu dan kelazatan ilmiah. Dengan demikian kita terlepas daripada keruntuhan, kejahatan dan kemiskinan, penjajahan dan keangkaramurkaan, serta peperangan-peperangan dengan segala bencana yang ditimbulkannya. Demi untuk mendapat bersama menikmati suatu kehidupan yang abadi hidup bersama saling bantu-membantu dan dalam suasana demokrasi dan bahagia”

3.3 Penyusunan Kurikulum Pendidikan Islam

Di antara perkara yang paling penting di dalam pembentukan setiap kurikulum, tidak terkecuali kurikulum pendidikan Islam, ialah penyusunannya. Untuk penyusunan yang rapi dan berkesan, kerjasama antara pihak sekolah dan pihak penggubal kurikulum amatlah diperlukan. Penyusunan tersebut hendaklah menitikberatkan kesesuaiannya menurut kemampuan pelajar.

Penyusunan kurikulum yang tepat akan membawa manusia semakin hampir kepada Allah. Seterusnya akan melahirkan genarasi manusia “para sahabat” yang intelek, berilmu, beriman dan baramal. Kurikulum yang disusun hendaklah berkesinambungan dari peringkat rendah hinggalah ke peringkat menengah berterusan ke peringkat universiti bersesuai dengan kehendak dan keperluanNegara.

Selanjutnya, oleh kerana matlamat kurikulum dan pendidikan Islam untuk melahirkan individu yang sempurna, samaada dari segi rohani mahupun jasmani, mata pelajaran dalam kurikulum itu hendaklah bersifat sepadu. Dengan kata lain mata pelajaran dalam kurikulum pendidikan Islam tidaklah terbatas kepada ilmu-ilmu yang berbentuk teoritis sahaja, baik bersifat naqli mahupun aqli tetapi juga berbentuk praktis, seperti pendidikan jasmani,latihan ketenteraan, teknik, pertukangan, pertanian dan perniagaan. Kurikulum yang semata-mata membekalkan pelajaran yang berbentuk spiritual boleh menyulitkan sesuatu institusi pengajian khususnya dari segi pembangunan material ( Hj. Abdullah Ishak, 1989)

BAB V: PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan kepada rencana yang ditulis ini maka dapatlah penulis membuat beberapa kesimpulan seperti berikut:

i. Pendidikan Islam mencelup keperibadian Muslim dengan celupan yang khas yang membezakan dari bentuk-bentuk pendidikan yang lain. (Hassan Langgulung,1979). Pernyataan di atas memberi gambaran kepada kita bahawa pendidikan Islam merupakan faktor utama yang paling penting untuk membentuk ketinggian peribadi setiap Muslim. Pendidikan Islam mempunyai tujuan-tujuan dan matlamat-matlamat tertentu yang semata-mata untuk mewujudkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat dan seterusnya untuk memperolehi keredaan Allah s.w.t.

ii. Skop pendidikan Islam terlalu luas. Ia merangkumi syariah, adabiah, riadhah, akliah dan seluruh penghidupan manusia,perbuatan, tingkahlaku dan amalan. Untuk menghayati skop pendidikan Islam ini, maka setiap individu Muslim haruslah memahami terlebih dahulu asas-asas dan konsep yang bertunjangkan akidah Islamiah. Kemudian diikuti dengan akliah ilmu pengetahuan, akhlak dan kesihatan. Pendidikan Islam itu memerlukan amalan dan penghayatan sebab seseorang itu tidak boleh mengamalkan sesuatu perkara tanpa memahaminya terlebih dahulu, khasnya asas-asas pendidikan Islam, seperti mengenal Allah, memahami rukun-rukun iman dan rukun-rukun Islam dan sebagainya (Ustaz Abdul Raof Dalip, 1990).

Jelasnya,di dalam pendidikan Islam terkumpul empat bidang utama iaitu pendidikan jiwa, pembersihan rohani, pembentukan akal fikiran yang sihat serta kecergasan tubuh badan.

iii. Kurikulum Pendidikan Islam “bertujuan menanamkan kepercayaan dalam pemikiran dan hati genarasi muda, pemulihan akhlak dan membangunkan jiwa rohani. Ia juga bertujuan untuk memperoleh pengetahuan secara berterusan, gabungan pengetahuan dan kerja, kepercayaan dan akhlak dan penerapan amalan teori dalam hidup” (Muhammad Hamid Al-Afendi & Nabi Ahmed Baloch, 1992)

iv. Dalam konteks Negara Brunei Darussalam pihak kerajaan pernah menegaskan tentang kepentingan penyusunan kurikulum secara teliti. Penekanan ini dibuat dengan tujuan untuk melahirkan penuntut-penuntut yang berguna kepada bangsa, agama dan negaranya:

“Di bidang pelajaran, kerajaan beta sedang berusaha untuk meningkatkan lagi taraf pencapaian pelajaran di Negara ini. Sehubungan dengan ini, beta ingin menyatakan bahawa perancangan pelajaran yang tersusun rapid an teliti lagi consistent adalah mustahak dalam usaha untuk melahirkan tenaga manusia yang berkemahiran dan bersesuaian dengan keperluan Negara” (Pelita Brunei, 1989)

Manakala dibidang pendidikan khususnya pendidikan agama (Islam) pihak kerajaan tetap mengutamakan pendidikan Islam agar rakyat dan penduduk Negara Brunei Darussalam yang berugama Islam dapat menghayati Islam sebagai satu cara hidup yang lengkap. Dengan itu negara Islam akan tetap wujud dan bangsa Melayu yang mendaulatkan raja akan terus gemilang yang berpegang kepada konsep Melayu Islam Beraja yang sewajibnya dikekalkan sepanjang zaman:

“Pendidikan pada khususnya mestilah jelas, bahawa keperluan umum tidak akan mengatasi keperluan agama. Dalam makna, pendidikan agama juga hendaklah sama-sama diutamakan. Di peringkat asas, pendidikan agama hendaklah sempurna, sementara di peringkat tinggi pula hendaklah mampu melahirkan ulama dan cendekiawan berwibawa. Jangan sama sekali ia kurang atau dikurangkan. Kerana berdasarkan fakta sejarah di mana-mana sahaja, jika pendidikan agama lemah, maka akan lemah pulalah bangsa” (Himpunan Titah,2006)

Akhir kata penulis ingin menyeru setiap individu agar mengutamakan pendidikan Islam dalam segala aspek kehidupan. Seterusnya di dalam menentukan kejayaan dan keberkesanan pendidikan Islam di setiap peringkat persekolahan maka penyusunan kurikulum pendidikan Islam secara teliti, sistematik sentiasa dikemaskinikan mengikut keperluan semasa hendaklah diutamakan. Manakala bagi menghasilkan kejayaan yang sempurna maka pembentukannya hendaklah melalui kerjasama yang erat semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan dengan disokong oleh pihak kerajaan.

BIBLOIGRAFI

Al-Quran Al-Karim.

Abdul Halim El-Muhammady Dr., Pendidikan Islam;Falsafah,Disiplin dan Peranan Pendidik, Dewan Pustaka Islam, Selangor Darul Ehsan, 1991.

Abd. Rahman Saleh, Didaktik Pendidikan Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1973.

Abdul Raof Dalip,Ustaz, Asas-Asas Pendidikan Islam, Progressive Products Supply, Selangor Darul Ehsan,1990.

Abdur Rosyad Syuhudi,Dr., Pendidikan Islam, Universiti Brunei Darussalam, Bandar Seri Begawan, 1990.

Ali Al-Jumbulati & Abdul Futuh At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam, terjemahan Prof. H.M. Arifin,M.Ed. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta,1994.

Gamal Zakaria,Dr., Ibnu Sahnun, Mutiara Pendidik Muslim,Pusat Penyelidikan dan Pembangunan Akademik,Kolej Islam Darul Ehsan, Selangor Darul Ehsan, 2002.

Ghazali Darusalam, Pedagogi Pendidikan Islam, Utusan Publication & Distributors Sdn Bhd, kuala Lumpur, 2004.

H. Syamsul Bahri Tanrere, Kaedah Pengajaran Pendidikan Agama,Universiti Brunei Darussalam, Bandar Seri Begawan, 1993.

Hj. Abdullah Ishak, Dr., Sejarah Perkembangan Pelajaran Dan Pendidikan Islam, Al-Rahmaniah, Selangor Darul Ehsan, 1989.

Hj. Maimun Aqsa bin Hj. Abidin Lubis , Dr., Falsafah Pendidikan Islam, Universiti Brunei Darussalam, Bandar Seri Begawan, t.t.

Haron Din,Dr. & Sobri Salamon, Dr., Masalah Pendidikan Islam Di Malaysia, Al-Rahmaniah, Kuala Lumpur, 1988.

Hassan Langgulung, Pendidikan Islam, Pustaka Antara, Kuala Lumpur, 1979.

________________,Beberapa Tinjauan Dalam Pendidikan Islam, Pustaka Antara, Kuala Lumpur,1981.

Himpunan Titah Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei Darussalam Di Majlis-Majlis Keagamaan Dan Titah-Titah Yang Berunsurkan Keagamaan (1997-2005), Pusat Da’wah Islamiah, Kementerian Hal Ehwal Ugama, Negara Brunei Darussalam, 2006.

Ibrahim Saad, Isu Pendidikan Di Malaysia, Dewan Bahasa dan Pustaka,Kementerian Pelajaran Malaysia, Kuala Lumpur, 1986.

Kamarudin Hj. Kachar, Prof. Dr., Strategi Penerapan Nilai-Nilai Islam Di Institusi Pendidikan, Teks Publishing Sdn. Bhd. Malaysia, 1989.

Kementerian Pelajaran Malaysia, Laporan Jawatankuasa Kabinet Mengkaji Pelaksanaan Dasar Pelajaran, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1984.

Mohd Yusuf Ahmad, Falsafah dan Sejarah Pendidikan Islam, Penerbit Universiti Malaya, Kuala Lumpur, 2002.

Musa bin Daia, Prinsip Am Pendidikan,Pustaka Aman Press, Kota Baharu Kelantan, 1986.

Muhammad Hamid Al-Afendi & Nabi Ahmed Baloch, Kurikulum Dan Pendidikan Guru, terjemahan Ahmad Jaffni Hassan, Mohamad Nordin Zainuddin, Asiah Idris, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur,1992.

Muhammad Salih Samak, Ilmu Pendidikan Islam, terjemahan Wan Amnah Yaacob,Saedah Suhaimi,Ahmad Ismail, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1980.

Nicholls, H. dan Audrey, Perkembangan Kurukulum: Satu Panduan Praktis, terjemahan Dr. Mohamad Daud Hamzah & Dr. Koh Tsu Koon, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pelajaran Malaysia, 1987.

P.O.K. Amar Diraja Dato Seri Utama (Dr.) Awang Hj. Mohd. Jamil Al-Sufri, Corak Pendidikan Di Brunei Pada Masa Hadapan, Majlis Pelajaran Brunei, 1982.

Pg. Hj. Abu Bakar bin Pg Hj. Syariffuddin, Dr., Perkembangan Kurikulum Pendidikan Islam (Nota Kuliah), Universiti Brunei Darussalam, Bandar Seri Begawan, 2008.

Omar Al-Syaibani, Prof. Dr., Falsafah Pendidikan Islam, terjemahan Prof. Dr.Hasan Langgulung,Hizbi Sdn. Bhd., Selangor Darul Ehsan, 1991.

Samsul Nizar, M.A., Dr., Penghantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam, Gaya Media Pratama, Jakarta,2001.

Sharifah Alwiah Alsagoff, Ilmu Pendidikan:Pedagogi, Heinemann, Kuala Lumpur, 1986.

__________________, Falsafah Pendidikan, Heinemann, Kuala Lumpur,1987.

__________________, Sosialogi Pendidikan, Heinemann, Kuala Lumpur,1987.

Sayid Sabiq, Unsur-Unsur Dinamika Dalam Islam, terjemahan Drs.Haryono S. Yusuf, PT Intermass, Jakarta, 1981.

Syed Sajjad Husain & Syed Ali Ashraf, Krisis Dalam Pendidikan Islam, terjemahan Drs.Fadhlan Mudhafir, Al-Mawardi Prima, Jakarta, 2000.

Tajul Ariffin Noordin, Prof. Dr., Pendidikan Suatu Pemikiran Semula,Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur, 1990.

Teuku Iskandar,Dr., Kamus Dewan, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia, 1986